Mengurus visa Schengen, episode 3 (Kedubes Italia… lagi…)


Setelah bolak balik dari Italia – Perancis – Indonesia (Kantor Imigrasi Jakarta Selatan) perjalanan panjang toh berakhir kembali di Italia tapi terbagi menjadi episode 3.1 dan 3.2

Episode 3.1 terjadi di suatu hari Senin pagi. Seperti yang sudah sudah, saya sebenarnya punya rencana pagi itu untuk mengakali proses permintaan visa yang bertele tele ini. Kalau saya pikir ulang, kok manusia itu selalu banyak pikiran tapi tidak pernah ada kejadian, nah inilah salah satu contohnya.

Di kantor saya, ada satu ob yang selalu masuk amat pagi. Maka dari hari Jumat saya sudah minta tolong agar ob ini pagi pagi sekali di hari Senin datang ke kedubes Italia untuk ambil nomor sesuai dengan prosedur yang sudah saya tulis di Episode 1. Ternyata saudara saudari sebangsa setanah air, ada satu informasi di Episode 1 yang perlu di ralat yaitu antrian nomor ternyata tidak boleh di wakilkan! Jam 7:30 saya mendapat telepon dari ob bahwa berkas2 nya ditolak karena tidak boleh diwakilkan (walaupun hanya ambil nomor) dan kalaupun tidak ditolak, pada jam 6:30 dia datang nomornya sudah habis!

Alamakjan, kenapa segitu susah nya??

Siangnya setelah di cek ulang, saya pun di beritahu oleh travel2 agent bahwa belakangan ini memang peraturannya ketat sekali. Bahkan klien mereka pun harus ngantri jam 6 bersama orang2 travel agency. “Loh kalo gitu nggak ada gunanya dong jasa travel agent”. “Iya mbak, untuk visa ke eropa memang kita tidak bisa membantu banyak”.

Episode 3.2 akhirnya terjadi juga di suatu hari Selasa pagi. Padahal waktu itu suamiku ada meeting penting dari jam 9-11 tapi tekadku sudah bulat sebulat kelereng untuk dapat visa hari itu juga jadi akupun tidak peduli. Kami berdua sepakat bahwa ambil nomor pagi-pagi akan berbarengan tapi yang wawancara hanya aku seorang.

Hari itu kita datang ekstra pagi jam 6:00 teng di Menteng. Berkas sudah aku buat komplit rangkap dua semua termasuk dokumen semua hotel dan referensi bank. Karena kita di Eropa akan cukup lama, dokumen2 yang ada sudah cukup untuk di bukukan dan dijual sebagai novel.

Jam 6:00 – 6:45 kami berdua buka laptop sembari duduk di trotoar pinggir jalan raya (karena sekali lagi bangku tidak cukup) menghabiskan waktu

Jam 6:45 – 7:00 suami sempat mengobrol dengan bapak2 dari Medan yang nasibnya lebih apes dari kita. Si Bapak cerita bahwa berkas ibu nya yang sudah tua dari Medan di tolak karena mereka bilang ibu nya harus ikutan muncul di kedubes. Padahal nenek ini udah uzur banget, ya masak harus datang di jam kalong jauh jauh dari Medan? Akhirnya untuk mengakalinya si bapak harus mengurus sang nenek masuk Kartu Keluarga nya agar bisa di wakilkan (karena untuk setiap rombongan pemohon yang dalam 1 KK, bisa diwakilkan oleh satu orang di KK itu.) Lebih gawatnya, si nenek ini harus punya mutasi rekening sendiri!!. Padahal nenek itu udah pensiunan 20 tahun! Sampai2 si bapak harus meng-dhl-kan mutasi rekening si nenek dari Bank Sumut di Medan. Nah lo….. padahal waktu itu saya tidak bawa mutasi rekening, hanya punya fotokopi mutasi rekening suami…. dag dig dug. “Ya Allah, jangan sampaaaaai ada Episode 4…. Amiin” begitu doa saya dalam hati.

Jam 7:00 – 7:15 berkas di ambil

Jam 7:30 – 8:00 kita memutuskan makan pagi ke Sudirman setelah belajar dari pengalaman sebelumnya. Sembari makan kita ngobrolin pengalamanan mengenaskan bapak tadi pagi dan akhirnya memutuskan untuk minta mutasi rekening di bank.

Jam 8:00 – 8:30 saya mencak mencak di Bank BCA karena mereka tidak bisa mencetak mutasi rekening. “Harus ke KCP tempat Ibu membuka tabungan dulu”. Gondok bertubi tubi karena ini kedua kali nya aku ke bank dan ditolak karena bukan KCP awal. Gondok bertambah karena kita tau persis di Bank Mandiri bisa cetak mutasi rekening di mana saja.

“Tapi saya sudah pindah mbak”. “Ya kita sarankan ibu buka rekening baru di KCP terdekat dari kantor/rumah ibu dan menutup yang dulu”. “Untuk buka rekening bagaimana”. “Bisa disini bu”. “Untuk menutup bagaimana?”. “Ibu harus ke KCP awal lagi untuk penutupan rekening”. Hah???

Melihat mukaku yang semerawut seperti benang kusut, mbak itu berujar lagi “Atau ibu transfer aja ke rekening baru”. “Ok, jadi kalau sudah buka rekening baru sekarang, saya bisa cetak mutasi rekening nggak?”. “Aduh nggak bisa bu, mesti tunggu 24 jam”. “Mbak, saya mau minta formulir komplain dong….” tuntasku langsung!

Jam 8:30 – 9:00 pindah ke Bank Mandiri di sebrang jalan, buka rekening 15 menit, transfer uang dari suami 2 menit dan cetak mutasi rekening 5 menit. (Saudara saudara, bukalah rekening di Bank Mandiri!!!!!!!!!)

Jam 9:00 dikecup suami yang harus pergi ke kantor, loncat ke ojeg dan menuju menteng

Jam 9:10 – 9:30 kembali duduk di trotoar buka laptop tapi tidak lama baterei habis!

Jam 9:30 dapat nomor yang ternyata sama aja 41 dan 42 (tidak jauh beda dari nomor antrian di Episode 1 yang 45 dan 46 walaupun ngantrinya beda setengah jam lebih)

Jam 9:30 – Jam 11:40 menunggu, baca buku, kenalan sama oom yang juga ngantri, di ceramahin si oom agar jangan menunda punya anak, pura pura baca buku biar nggak di ceramahin, om ngeloyor duduk tempat lain, menguap, ketawa melihat orang orang itali yang mau ngurus surat nikah sampai setres gara gara petugas kedubes nya nggak bisa ngomong itali, menunggu, ngobrol sama satpam yang melihat jalanku pincang karena keseleo, tawar menawar jasa tukang urut / tukan kebon kedubes, nggak jadi urut karena takut, menunggu, menyesal nggak bawa buku yang lebih menarik

Jam 11:40 – 12:00 giliranku! Agak lama ya karena itu tadi, berkas ku sudah seperti buku novel. Sempat dijelaskan juga bahwa suami istri boleh 1 mutasi rekening. (Yah sia sia dong berantem sama Bank BCA tadi pagi!)

Jam 12:00 selesai!!! Paspor boleh diambil 10 hari lagi.

7 responses to this post.

  1. Posted by Ida on June 30, 2009 at 10:54 pm

    Mbak, terima kasih atas infonya. Saya juga mau mengurus utk tourist visa ke italy, saya ada invitation dari adik yang tinggal di sana. Saya ingin menanyakan beberapa hal:
    1. Mutasi rekening itu apa print out dari bank selama 3 bulan dan surat dari bank yang menjelaskan tentang rekening kita?
    2. Apakah benar memakai travel agency sama saja? Saya berencana memakai jasa travel agency karena saya di Surabaya.
    3. Apakah waktu menyerahkan berkas kita juga bakalan diinterview? Terus kita bisa langsung tahu dapat visanya atau tidak?
    4. Untuk mengambil passport (bila sudah jadi) apakah boleh diwakilkan?
    Terima kasih sekali atas jawabannya.

    Reply

    • Posted by fheyder on July 1, 2009 at 1:04 am

      Mbak Ida,

      1. Iya benar. Plus referensi bank kalau bisa 2. Begitu tuh info yg saya dpt dr travel agency lokal 3. Iya langsung “diinterview” asal kebagian jatah 60 paspor hari itu. Tapi interview ini kalau saya lihat lebih ke pengecekan berkas2 oleh staff lokal kedubes. Bisa saja setelah diproses di dalam oleh immigrations office ditolak, tp saya jarang denger kasus ini 4. Boleh diwakilkan.

      Reply

  2. Posted by melanie on October 4, 2009 at 12:57 pm

    Mba Fida terima kasih atas infomasinya, saya mau minta penjelasan lebih detail , jadi kalo suami istri yg berangkat, yang interview boleh istrinya saja kan ? trus fotokopi rekening bank yang dilampirkan kalo uangnya banyakan di istri ( pastinyaaa…) boleh rekening istri saja kan yg dilampirkan? thx sebelumnya

    Reply

    • Posted by fheyder on October 7, 2009 at 12:05 pm

      Wa wa wa… detail sekali…… no (1) kayaknya boleh, waktu itu akhirnya aku doang yang interview (2) kayaknya boleh juga, waktu itu aku sih pake rekening suami trus di foto kopi untuk lampiran ku. good luck.

      Fida

      Reply

  3. Posted by Irvin on December 22, 2009 at 5:53 pm

    sist… thanks banget atas infonya… saya jg rencana mo ke italia. tapi ada beberapa masalah…
    1. travel insurance yg dimaksud itu apa ya sist? agen yg ditunjuk kedubes itali atau kita pilih sendiri
    2. kalau pekerjaannya wiraswasta gimana? kan ga ada SIUP dari kantor tuh >.< bingung saya…
    3. oh ya, satu hal lagi… soal reservasi hotel, misalkan kita tinggal dengan kerabat/teman yg menyediakan tempat tinggal apa apa perlu diberikan surat keterangan dimana kita menginap?

    thank you sebelumnya ya sist… websitemu sangat membantu :)

    Reply

    • Posted by fheyder on December 28, 2009 at 6:22 pm

      Hi… kayaknya aku udah nulis semua informasi itu deh di blog ku, di baca ulang aja kali ya :) kalo soal wiraswasta… wah nggak tau tuh, bukannya SIUP itu perlu untuk semua kantor ya?

      Reply

      • Posted by Irvin on January 5, 2010 at 3:21 pm

        sudah tanya sana-sini… hihi…. sebagian besar udah cukup paham, lebih ribet kerjaan kek saya mbak yang wiraswasta tp bukan dalam bentuk PT gitu :D hahaha…

        oke mbak, makasih banyak ya!

Respond to this post